Tiga hal yang menentukan tingkat bahaya
Sebelum menebak nama penyakitnya, tiga hal ini yang menentukan seberapa cepat harus bertindak: apakah burung masih mau makan, apakah gejalanya menular ke sangkar sebelah, dan seberapa cepat kondisinya menurun. Burung yang berhenti makan lebih dari sehari selalu masuk kategori mendesak, apa pun tebakan penyakitnya.
Isolasi jadi langkah pertama yang hampir selalu benar. Snot dan berak kapur menular lewat air minum dan udara, jadi memisahkan burung yang mencurigakan menyelamatkan burung lain sebelum diagnosisnya pasti.
Penyakit yang paling sering ditemui
Sebagian besar keluhan berkumpul di beberapa penyakit yang polanya sudah dikenal: snot dengan mata bengkak dan berair, berak kapur dengan kotoran putih menempel, gangguan pencernaan dengan kotoran hijau atau encer, kutu yang membuat burung gelisah, dan serak karena radang tenggorokan.
- Snot atau coryza: mata bengkak, lendir hidung, cepat menular
- Berak kapur: kotoran putih seperti kapur, berbahaya untuk anakan
- Kutu dan gurem: burung sering garuk, bulu rusak
- Radang tenggorokan: suara serak atau hilang
Batas dengan urusan birahi
Tidak semua burung yang macet itu sakit. Murai yang berhenti bunyi atau kacer yang mbagong sering hanya soal birahi yang naik-turun, bukan penyakit. Bedanya terlihat dari nafsu makan: burung over birahi tetap lahap, burung sakit tidak. Kalau ternyata cuma setelan, urusannya pindah ke takaran extra fooding, bukan obat.